Jumat, 30 Maret 2012

MABDA’ (IDEOLOGI)

Mabda’ (ideology) dalam bahasa arab, adalah bentuk (sighat) mashdar mim dari kata bada’a yabdu’u bad’an wa mabda’an, yang artinya memulai. Secara terminologis, mabda’ berarti pemikiran yang mendasar yang menjadi pondasi pemikiran-pemikiran lain. Bila ada orang yang berkata, mabda’ku adalah “ kejujuran” maka yang dimaksud dengan ungkapan mabda’ku adalah bahwa kejujuran merupakan prinsip setiap perbuatannya. Begitu pula, jika seseorang mengatakan  bahwa mabda’nya menepati janji, maka yang dimaksud disini adalah bahwa menepati janji merupakan prinsip mu’amalahnya. Demikian seterusnya.
          Hanya saja, banyak orang terbiasa menggunakan istilah mabda’ dalam konteks pemikiran cabang, yang antara lain bisa digunakan untuk membangaun pemikiran pemikiran cabang lain dan menganggabnya sebagai mabda’, karena pemikiran cabang tersebut dianggap sebagai pemikiran yang mendasar. Karena itu, mereka mengnggap kejujuran, perbuatan baik kepada tetangga, tolong menolong, masing-masing sebagai mabda’.
          Dari sini, mereka kemudian menjadikan akhlak, ekonomi, dan sosoiologi sebagai mabda’. Yang merka maksud adalah adanya pemikiran-pemikiran tertentu tentang ekonomi atau pemikiran tertentu tentang undang-undang  yang menjadi dasar dan pokok bangunan yang melahirkan pemikiran-pemikiran lain dibidang perundang-undangan.
          Sebenarnya pemikiran tersebut bukan mabda’, tetapi hanya kaidah atau pemikiran saja. Sebab mabda’ adalah pemikiran mendasar. Sedangkan pemikiran-pemikiran tersebut bukanlah pemikiran mendasar, tetapi hanya merupakan pemikiran cabang, meskipun bisa menghasilkan pemikiran lain, namun tetap tidak secara otomatis menjadikannya sebagai pemikiran mendasar. Pemikiran-pemikiran itu statusnya tetap merupakan pemikiran cabang, walaupun bisa menghasilkan pemikiran-penikiran lain, atau bisa memecahkan pemikiran-pemikiran baru, selama pemikiran-pemikiran tersebut bukan merupakan pemikiran mendasr, tetapi tetap merupakan pemikiran yang terpancar dari pemikiran mendasar.
          Dengan demikian, kejujuran, menepati janji, tolong-menolong atau yang lain merupakan pemikiran cabang, bukan pemikiran mendasar. Sebab, pemikiran-pemikiran ini diperoleh dari pemikiran mendasar, juga karena pemikiran-pemikiran ini bukan merupakan asas. Kejujuran adalah cabang dari asas yang lain. Bagi kaum muslim, kejujuran adalah hokum syara’ yang di ambil dari alquran, sedangkan dalam pandangan orang-orang non muslim, kejujuran merupakan sifat baik yang bisa memberikan manfaat, yang diambil dari pemikiran kapitalisme.
          Karena itu, pemikiran tidak bisa dikategorikan sebagai mabda’(ideologi), kecuali jika pemikiran tersebut merupakan pemikiran mendasar, yang bisa memancarkan pemikiran lain. Pemikiran mendasar adalah pemikiran yang sama sekali tidak didahului oleh pemikiran lain. Pemikiran mendasar ini hanya ada pada pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan. Sebab tidak ada pemikiran lain yang lebih mendasar dari pemikiran ini. Alasannya, karena pemikiran ini merupakan dasar dalam kehidupan.
          Ketika manusia memandang dirinya, dia pasti akan menemukan bahwa manusia pada dasarnya hidup di alam. Selama belum ditemukan pada dirinya pemikiran tentang dirinya, kehidupan dan alam sekitarnya dari aspek ada dan penciptaannya, maka tidak mungkin dia bisa memberikan pemikiran yang bisa menjadi dasar hiupnya. Karenanya, kehidupan orang tersebut akan terus berjalan tanpa asas, labil, tidak jelas dan berubah-ubah, selama pemikiran mendasar ini  belum ada didalam dirinya. Dengan kata lain, selama pemikiran menyeluruh tentang diriya, kehidupn dan alam ini belum ada pada dirinya.
          Dari sini, maka pemikiran menyeluruh tentang alam, manusia, dan kehidupan ini merupakan pemikiran mendasar yaitu akidah. Hanya saja, akidah ini tidak akan bisa menghasilkan pemikiran lain, dan tidak bisa menjadi pondasi bagi pemikiran lain, kecuali jika akidah ini juka merupakan pemikiran atau merupakan hasil kajian rasional. Namun, jika akidah tersebut diterima secara doktriner, maka akidah semacam ini bukan pemikiran dan tidak disebut sebagai pemikiran menyeluruh, sekalipun tetap layak disebut akidah. Karena itu, pemikiran yang menyeluruh ini benar-benar diraih manusia melalui penalaran atau merupakan hasil kajian rasional, sehingga pada saat itu akidah tersebut menjadi akidah rasional. Pada saat itulah, pemikiran lain bisa terpancar dan dibangun dari kaidah ini.
          Pemikiran yang dibangun dan terpancar dari akidah ini adalah problem solving bagi kehidupan, yaitu hokum-hukum yang mengatur masalah kehidupan manusia. Selama akidah rasional ini ada, dan dari akidah ini terpancar berbagai hokum yang bisa menyelesaikan berbagai problem kehidupan manusia, maka mabda’ (ideology) ini didefinisikan sebagai akidah rasional yang bisa memancarkan system.
          Dari sini, bisa disimpulkan bahwa islam adalah mabda’ ( ideology), karena islam merupakan akidah rasional yang bisa memancarkan sebuah system yaitu hokum-hukum syara’, karena hokum-hukum tersebut bisa menyelesaikan problem kehidupan. Komunisme juga merupakan ideology, karena merupakan akidah rasional yang bisa memancarkan system, yaituberbagai pemikiran yang bisa digunakan untuk menyelesaikan problem kehidupan. Kapitalisme juga merupakan ideology, karena kapitalisme merupakan akidah rasional, yang bisa menjadi pondasi berbagai pemikiran yang mampu menyelesaikan problem kehidupan.
          Dari sini juga sudah manpak dengan jelas, bahwa nasionalisme bukanlah ideology, patriotism juga bukan ideology, mazisme juga bukan ideology, eksistensialisme juga bukan ideology. Sebab masing-masing bukanlah akidah rasional yang bisa memancarkan system apapun, juga tidak bisa menjadi pondasi dari pemikiran apapun yang bisa menyelesaikan problem kehidupan.
          Tentang agama, jika agama tersebut akidahnya adalah akidah rasional, yang diperoleh melalui penalaran, serta memancarkan system yang bisa menyelesaikan problem kehidupan atau menjadi pondasi pemikiran, maka akidah tersebut merupakan ideology, yang relevan dengan definisi ideology. Namun, jika akidahnya bukan akidah rasional, misalnya, akidahnya merupakan akidah perasaan yang diterima secara doktriner, yang menuntuk diterima tanpa proses pembahasan nalar, juga tidak bisa memancarkan system apapun, dan tidak pula mampu menjadi pondasi bagi pemikiran lain, maka semua agama yang seperti ini bukanlah mabda’ (ideology). Karena akidahnya bukanlah akidah rasional, juga tidak bisa memancarkan system kehidupan.

Read more »

STANDART PERBUATAN

Banyak orang yang menjalani kehidupannya tanpa petunjuk (hidayah). Mereka pun melakukan berbagai aktifitas tanpa menggunakan standart  yang bisa mereka gunakan untuk mengukur perbuatannya. Karena itu, anda sering menjumpai mereka melakukan sejumlah perbuatan tercela, yang mereka sangka terpuji, sebaliknya mereka meninggalkan perbuatan terpuji, karena mereka sangka sebagai perbuatan tercela. Sebagai contoh, seorang wanita muslimah yang berkeliaran di jalan-jalan kota metropolitan negeri-negeri islam, seperti Beirut, damaskus, kairo, atau bagdad dengan membuka lengannya, sambil menampakkkan keindahan dan kecantikan tubuhnya. Dia mengira melakukan tindakan terpuji.
                Demikian pula seorang yang wara’ dan rajin kemasjid, tetapi dia menolak terlibat dalam membicarakan tingkah laku penguasa yang korup, karena ini merupakan urusan politik. Dia mengira, bahwa terlibat dalam urusan politik adalah perbuatan tercela. Sesungguhnya seorang wanita tadi dan laki-laki ini, sama-sama telah terjerumus dalam perbuatan dosa. Mengapa? Karena wanita tersebut telah memepertontonkan auratnya, sedangkan pria ini tidak mau memperhatikan urusan kaum muslim. Kondisi ini bisa terjadi, karena keduanya sama-sama tidk memiliki standart, yang merka gunakan untuk mengukur perbuatan mereka. Padahal, jika memilikinya, pasti tiak akan kita jumpai perbuatan yang bertentangan dengan mabda (ideology islam) yang secara nyata telah mereka ikrarkan. Karena itu, adanya standart yang berfungsi untuk menilai setiap perbuatan adalah keharusan bagi setiap orang, sehingga dia akan mengetahui hakikat suatu perbuatan sebelum mengerjakannya.
                Islam telah menetapkan standar bagi manusia untuk menilai segala sesuatu, sehingga dapat diketahui mana perbuatan yang terpuji yang harus segera dilakukan, dn mana perbuatan tercela yang harus segera di tinggalkan. Standart ini tidak lain adalah syariat. Jika syara’ menilai suatu perbuatan ini terpuji, maka itu terpuji, jika syara’ menilai suatu perbuatan itu tercela, maka itu tercela.standart ini bersifat permanen, karenanya perbuatan yang terpuji seperti jujur, menepati janji, berbuat baik kepada orang tua tidak akan berubah menjadi tercela, dan sebaliknya, suatu perbuatan tercela tidak akan berubah menjadi terpuji. Bahkan apa yang dinyatakan terpuji oleh syara’, selamanya akan terpuji, begitu pula yang di cela oleh syara’, selamanya akan tercela.
                Dengan demikian, seseorang bisa melangkah di muka bumi berdasarkan petunjuk yang lurus. Setiap perbuatan yang dilakukannya juga akan senantiasa berdasarkan petunjuk (hidayah), sehingga dia mengetahui hakikat perbuatan. Berbeda jika syara’ menetapkan standart baik atau buruk untuk setiap perkara, kemudian akal dijadikan sebagai standart, maka akan terjadi kekacauan dan ketidakpastian. Sebab, suatu perkara bisa saja di anggap terpuji pada suatu keadaan, tapi pada keadaan lain di anggap tercela. Sebab, akal manusia kadangkala memuji suatu perbuatan di masa sekarang, tetapi esok harinya di cela, atau suatu perbuatan di pandang terpuji disuatu negeri, tetapi dipandang tercela di negeri lain. Akibatnya, hokum segala sesuatu menjadi tidak jelas dan berubah-ubah, layaknya tiupan angin, sehingga pujian dan celaan adalah sesuatu yang bersifat nisbi, tidak lagi nyata. Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa saja terjerumus dalam perbuatan tercela, tetapi menyangka sebagai perbuatan terpiji, atau dia akan menjauhi diri dari perbuatan yang terpuji, karena disanka sebagai perbuatan yang tercela. Karena itu, wajib bagi setiap orang untuk menjadikan hokum syara’ sebagai standart bagi semua perbuatannya, dengan menganggap segala sesuatu terpuji atau tercela hanya berdasarkan hokum syara’ semata.

Read more »

Senin, 09 Januari 2012

Pilih Ganteng atau Takwa?

Ssstt, kamu pasti pada tahu kan tongkrongannya Irfan Bachdim, Justin Bieber, Dude Herlino, Hyun Bin, dan masih banyak deretan nama cowok lainnya. Kata banyak orang, mereka cakep, ganteng, tampan bin mengkilat. Lho? Kok kata orang? Karena apa yang menurut kata orang banyak, belum tentu saya sependapat dengan mereka. Suka-suka donk! Ya nggak? Hehehe 
Semua nama tersebut adalah deretan selebritis yang terkenal di bidangnya masing-masing. Dari semua nama tersebut, hanya Irfan Bachdim saja yang background-nya adalah sepak bola. Selebihnya adalah kalangan artis dan bintang sinetron/film. Tak heran, karena bidang ini (baca: entertainment) memang mengharuskan wajah cakep sebagai modal utama bila ingin terkenal.
Kalau yang tak punya wajah cakep, gimana dong? Kalau nekat pingin terkenal di dunia selebritis, tanpa modal cakep dan body seksi maka kamu harus punya kebalikannya. Apaan tuh? Sorry, nggak tega bener sebetulnya mau bilang kalo kebalikan wajah cakep adalah wajah (maaf) ancur. Coba aja kamu perhatikan beberapa seleb yang settingan wajahnya begitu. Mereka selalu mentertawakan diri sendiri dengan banyolan yang intinya pengakuan bahwa wajah mereka sendiri jauh dari harapan (akhirnya bisa nemu padanan kata yg sopan untuk istilah wajah ancur hehehe).
Tapi ngemeng-ngemeng (baca: ngomong-ngomong), apakah wajah cakep atau ganteng itu segitu pentingnya sih buat manusia terutama remaja seusia kamu? Apakah tak ada faktor lain yang bisa dilihat dari seorang cowok selain tampilan fisiknya semata?
Ganteng, penting nggak sih?
Bisa dipastikan hampir 100% dari kamu menjawab PENTING. Biar bagaimanapun, hal pertama yang bakal diperhatikan orang adalah wajah dan penampilan. So pasti, kamu bakal bangga kalo berdampingan dengan cowok cakep dibandingkan dengan cowok jelek. Diajak jalan-jalan oke, dikenalkan ke teman-teman bangga, diajak kondangan bisa nambah PD. Kayaknya asyik banget punya pendamping yang ganteng abis. Ayo, jujur deh.Hehehe… 
Masalahnya, definisi ganteng itu yang kayak gimana sih? Apakah yang kayak Irfan Bachdim, Teuku Wisnu, atau siapa pun itu yang biasa nongol di TV karena modal tampangnya dianggap oke punya?
Ternyata ganteng menurut kamu belum tentu sama menurut temanmu. Begitu juga ganteng menurut saya, belum tentu kamu sependapat juga. Jadi sebetulnya, semua cowok itu ganteng, sama kayak semua cewek itu cantik. At least, menurut ibu bapak masing-masing. Coba mana ada ortu yang nyesel punya anak karena wajah anaknya jelek trus malah muji-muji anak tetangga? Kalo pun ada itu ortu yang menghina diri sendiri namanya hehehe…
Back to topic, tentang ganteng tidaknya seorang cowok. Tak ada standar baku rumus kegantengan seseorang itu. Artinya, cakep itu relatif dan jelek itu mutlak hehehe…just kidding. Maksudnya, nggak usah jutek kalo pendapat kalian berbeda satu sama lain untuk menilai kegantengan seorang cowok. Udah deh, yakin aja bahwa cowok yang paling ganteng saat ini adalah bapak kamu. Hayoo…berani nggak kamu bilang bapak kamu nggak ganteng? Ibumu aja sampe kesengsem dan mau nikah kok sama beliau. Iya nggak sih? Sip deh!
Sis, Pastinya cowok ganteng berikutnya adalah yang jadi suami kamu kelak. Ya iyalah, nggak mungkin banget suami kamu cantik kan? Jadi nggak usah kurang kerjaan sekarang ini dengan membikin tabel kegantengan seseorang. Biarpun ganteng, toh mereka juga nggak kenal sama kamu. Lebih parah lagi adalah apabila ganteng cuma wajah tapi kelakuan naudzubillah. Idih…nggak banget!
Jadi meskipun ganteng itu penting tapi jangan sampai kamu melupakan faktor lain semisal kualitas otak dan akhlak seseorang. Menjadi ganteng tak bisa dipilih, tapi mempunyai otak dan akhlak yang berkualitas itu adalah pilihan yang harus melalui proses tertentu untuk mencapainya. Dan faktor inilah yang lebih pantas mendapat apresiasi dibandingkan wajah rupawan yang tak ada upaya apa pun dilakukan untuk meraihnya.
Ganteng bukan jaminan
Kamu tahu Irfan Bachdim dong ya. Yup, seantero rajyat Indonesia terpesona wajah gantengnya yang kebetulan dikombinasikan dengan skill pintar menggiring bola. Tapi tahukan kamu selera cewek yang menjadi pacar si Irfan ini? Jennifer Kurniawan, pacar si Irfan Bachdim ini berprofesi sebagai model semi telanjang yaitu hanya memakai pakaian dalam.
Ganteng ternyata bukan jaminan untuk melihat kualitas seseorang. Ganteng adalah tampilan fisik yang seringkali mengecoh banyak orang untuk perbuatan buruk di baliknya. Ganteng adalah sebuah anugrah fisik yang sudah ‘given’ alias takdir dari Allah. Seseorang nggak bakal bisa memilih punya wajah cakep seperti Nabi Yusuf misalnya. Apapun kondisi fisik kita, mancung tidaknya hidung kita, memble tidaknya bibir kita, lentik tidaknya bulu mata itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipinta. Lagipula tak bakal ada hisab atas diri manusia hanya karena wajahnya nggak ganteng dan hidungnya pesek. Sumpah!
Don’t judge a book by its cover, kata orang bule. Jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja, itu terjemahan bebasnya. Orang bertampang jauh dari ganteng, belum tentu hati dan akhlaknya tidak seganteng wajahnya. Begitu juga sebaliknya. Betapa banyak di luar sana, laki-laki yang memanfaatkan kegantengannya untuk menipu para gadis pemuja fisik semata. Si gadis dirayu dengan pesona fisik yang dimilikinya kemudian dinodai dan dicampakkan. So, berhati-hatilah kamu para gadis dengan tampilan ganteng namun kelakuan tak seganteng wajahnya itu.
Sis, yang perlu kamu ingat lagi adalah bahwa kegantengan seorang cowok ada masanya. Nggak selamanya terus ganteng dan fisiknya kuat. Ia akan tua, sama seperti manusia lainnya. Tak ada yang abadi. Itu sebabnya, jangan jadi pemuja kegantengan doang. Ok?
Takwa adalah utama
Ketika seorang wanita menginjak pada masa ABG. Pastinya tuh cewek sudah punya standar ganteng tersendiri. Biar kata semua teman bilang si A ganteng, but muslimah sejati bertahan dengan pendapat yang OKE punya bahwa si B lebih ganteng daripada si A. Itu karena saat itu remajanya tumbuh menjadi sosok yang punya prinsip, yang berbekal ilmu, bukan hanya melihat tampang aja. Ya nggak?
Ganteng menurut wanita shalihah adalah sosok cowok yang cerdas dan luas wawasannya. Biar kata kayak Justin Bieber, Hyun Bin (di serial Secret Garden) atawa Song Seung-Heon (yang melejit lewat Endless Love), tapi kalo diajak ngomong tulalit, dia jadi nggak ganteng blas di mata cewek cerdas (baca: wanita ideologis). Begitu sebaliknya, biar kata dia punya muka second, tapi kalo tuh cowok cerdas, luas wawasan, aktif organisasi, baik, suka menolong, prilaku sopan dan terpuji, maka cowok kayak gini yang jauh lebih oke dibandingkan yang pertama tadi. Seiring pemahaman Islam yang makin bagus, maka akhwat ideologis akan punya syarat mutlak bagi cowok untuk dibilang ganteng. Apakah itu? Yaitu nurut sama Allah dan RasulNya alias bertakwa. Tul nggak?
Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS al-Baqarah [2]: 221)
Udah deh, nurut sama petunjuk Allah ini dijamin bahagia dunia akhirat. Betapa banyak mereka yang mempunyai pendamping berwajah rupawan tapi keluarganya malah hancur berantakan. Inilah akibatnya apabila sebuah amal tidak dilandasi dengan ketakwaan tapi hanya berdasar hawa nafsu semata. Makan tuh wajahnya! Hihihi.. 
Nah, karena kamu-kamu sekarang masih sibuk sekolah nggak usah sok sibuk mikirin cowok ganteng. Belajar aja yang rajin karena jodoh sudah ada yang ngatur. Kalo untuk urusan ngefans, pilih sosok yang emang pantas untuk diidolakan aja deh. Di dalam Sunan Abu Dawud kitab al-Libas, diceritakan dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw. memperingatkan: “Mann tasyabbaha biqauminn fahuwa minhum.” “Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti termasuk bagian mereka.”
Oya, menyerupai di sini artinya mengikuti berbagai hal dari kaum tersebut, termasuk dalam mengidolakannya. Males banget kan kalo ternyata kamu salah memilih idola terus idolamu itu masuk neraka dan kamu ikut nyebur ke dalamnya. Hiii..nggak keren jadinya!
Takwa adalah standar setiap muslim dan mukmin yang memang peduli terhadap urusan dirinya baik dunia dan akhiratnya. Nggak asal ikut-ikutan saja tanpa tahu kenapa ngefans sama si ini dan si itu. Karena sungguh, setiap amal baik itu perbuatan ataupun perkataan dan yang terbersit di dalam hati manusia, semua akan dimintai pertanggungjawaban nanti di hadapan Allah Ta’ala.
Energi masa mudamu lebih baik disalurkan untuk hal-hal yang jauh lebih berguna daripada ngefans sama sosok-sosok ganteng tapi nggak jelas kualitas otak, akhlak, apalagi imannya. Misalnya saja, kalo pun mau cari idola, cobalah ngefans sama pejuang di Palestina sana yang berusaha mengusir Israel penjajah. Ngefans dengan mereka yang getol beramar makruf nahi mungkar demi tegaknya Islam di muka bumi. Dan tentunya ngefans di atas semua itu ditujukan pada Rasulullah Muhammad saw. dan seluruh keluarga dan para sahabatnya. Dijamin surga semua tuh. Insya Allah. Nggak rugi pokoknya kalo kamu ngefans sama sosok yang tepat seperti itu. Itu sebabnya, ati-ati pilih idola dan orang yang dijadikan fans kita ya.
Jadi, mulai sekarang jatuhkan pilihanmu pada pilihan yang tepat bin benar ya. Lebih baik memilih ganteng tapi bertakwa daripada sudahlah tak ganteng tak bertakwa pula. Aduh…rugi kuadrat tuh. Intinya, faktor takwa harus menjadi prioritas dibandingkan kegantengan ketika kamu ngefans pada seseorang atau memilih pendamping hidup kelak. Muslimah smart, so pasti tak akan salah pilih. Pasti itu!
[Namrif Ibnu Jauhari : SMK Negeri 2 Kota Probolinggo]

Read more »

Senin, 12 Desember 2011

Felix Siauw on Copyrights (Hak Cipta) Dalam Islam

Beberapa waktu ini saya diberi pertanyaan, bagaimana pandangan Islam terhadap hak cipta atau hak kekayaan inteletktual (copyrights dan intellectual property). Karena berkaitan dengan dunia ilmu,banyak akhirnya yang harus memanfaatkan barang-barang bajakan (piracy) seperti CD, DVD, buku dan media lainnya. Nah, saya dengan ilmu saya yang sedikit, kita akan coba bedah.
Sebagai dasar, kita harus mengetahui bahwa segala ilmu di dunia ini adalah milik Allah, karena dari Allah-lah segala ilmu dan Allah pula yang mengajari manusia segala bentuk ilmu. Sedangkan manusia hanya menguak (discovering) saja, bukan menciptakannya (creating). Allah menegaskan dalam kitab-Nya.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (TQS Al-Alaq  [96]: 3-5)
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya… (TQS Al-Baqarah [2]: 31)
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (TQS Az-Zumar [39]: 62)
Jadi, tidak haq dalam Islam, seseorang yang menganggap suatu ide, pengetahuan atau ilmu adalah miliknya sehingga setiap orang harus meminta izin atau memberikan kompensasi atas hal itu. Karena hakikatnya ilmu itu telah ada sebelumnya, dan dia hanya menguaknya (discovering) saja.
Jadi, sebuah ilmu tidak bisa digolongkan sebagai hak milik atau harta pribadi, sehingga boleh diperjualbelikan dan dijadikan sebagai alat untuk mengambil kompensasi. Karena ia adalah milik semua kaum Mukmin.
Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya (HR. Al-Askari dari Anas ra)
Lagipula, tanpa kita sadari, hak kekayaan intelektual sesungguhnya adalah alat penjajah untuk mencegah ummat Islam lebih maju darinya. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa berada di depan bila kita ditahan untuk maju kedepan?
Berbeda hukumnya dengan mengklaim karya orang lain sebagai miliknya, atau merubah karya orang lain tetapi tetap dinisbatkan pada pemilik karya. Maka ini adalah haram, karena termasuk penipuan.
Misal, menjiplak buku karya orang lain dan menisbatkan pada namanya, atau mengubah isi buku orang lain tetapi tetap dinisbatkan pada nama orang itu. Ini berarti penipuan dan fitnah, dan tentu saja hal semacam ini tidak diperkenankan dalam Islam berdasar dalil-dalil umum tentang haramnya penipuan.
Maka di dalam Islam, merk (brand) dagang diperbolehkan, dan akan diatur supaya satu merk hanya diberikan pada satu penanggung jawab, untuk memudahkan bila ada yang ingin meminta pertanggungjawaban terhadap produk atau karya tersebut.
Barang siapa telah lebih dahulu mendapatkan sesuatu yang mubah (halal) maka dialah yang lebih berhak atasnya (HR Baihaqi dan Daruquthni)
Jadi, Islam sangatlah menghormati intelektualitas, bahkan menyuruh agar kaum Muslim berlomba-lomba untuk melakukan intellectual discovery via pendidikan, pembelajaran dan penelitian. Dan kejayaan Islam dari abad 8 – 15 sudah menunjukkan hal itu. Dan penghargaan terhadap ilmuwan dan cendekiawan pun sangat istimewa dibandingkan peradaban lain pada zamannya, belum lagi penghargaan dari Allah.
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (TQS Al-Mujaadilah [58]: 11)
Barangsiapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR. Muslim)
Kesimpulannya
  1. Halal hukumnya memanfaatkan barang-barang bajakan seperti CD, DVD, buku ataupun media lainnya, karena hak cipta hanyalah milik Allah (All rights reserved only by Allah), dan semua ilmu berasal dari-Nya dan Allah telah mewajibkan kita mencari dan menuntut ilmu.
  2. Haram hukumnya menjiplak (copycat) dengan merubah isi atau mengklaim karya itu miliknya sendiri atau milik selain yang berkarya. Tidak diperkenankan pula memakai merk (brand) yang sama yang telah digunakan oleh saudara kita yang lain.
  3. Haram menganggap ilmu sebagai milik pribadi dan meminta kompensasi darinya. Tapi halal menjual atau meminta kompensasi atas produk hasil intelektual (buku dan CD misalnya). Artinya yang dijual bukan ilmu, tapi produknya.
Sebagai pertimbangan terakhir, bila karya itu adalah karya seorang Muslim yang telah mencurahkan usaha yang tidak sedikit, tentu secara etika tidak pantas kita membajaknya. Dan selagi kita masih memiliki kemampuan, maka belilah produk-produk asli, bukan yang bajakan. Karena tentunya ia akan membantu orang yang berkarya. Juga membantu agar dia bisa terus berkarya untuk ummat.

sumber :http://maf1453.com/felix/2011/12/13/copyrights-hak-cipta-dalam-islam/

Read more »

Sabtu, 10 Desember 2011

Sons Of Liberation

            Bro..coba bayangin ! jika umak berada di suatu masa dimana umak menjadi seorang kesatria yang berpakaian lengkap ala samurai, bertopeng ninja, bertameng besi, bersenjatakan badik dan di pundak umak terpanggul sebuah senapan rakitan (papporo), gagah gak ya? Hmmm… mungkin orang2 kan menertawai umak, loh kok bisa? Ya iyalah…soalnya kostum umak gak nyambung bro..alias SALTUM……. :D
            Nevermind lah ! ya, walaupun begitu umak adalah seorang kesatria yang memiliki kewibawaan dan keberanian. You are a Hero, man! kewibawaan dan keberanian yang disertai dengan kecerdasan adalah modal umak untuk mengalahkan lawan2 umak. Cerdik dalam mengatur strategi, wibawa dalam memerintah, dan berani dalam mengambil resiko, meski penampilan umak lumayan urakan dengan kostum kesatria ala gado-gado.
            Seorang kesatria dianggap sebagai orang yang memiliki kelebihan dibanding dengan yang lain. Liat aja para superhero ala kartunis, superman dan superboy memilki kelebihan mampu terbang di udara walau memakai celana dalam yang dipakai diluar. Spiderman memiliki keahlian dalam urusan panjat memanjat gedung, tapi pastinya dia gak ahli memanjat tebing. Superhero Indonesia yaitu si Gatot Kaca, jangan Tanyakan kelebihannya, pasti kalian tahu, kumisnya itu lho! Tebal dan panjang banget bo’! Pokoknya gak kuku deh kalo ngebayanginnya!.
            Brama kumbara si Kesatria Madangkara, jagonya terbang walaupun digantung pake tali. Tapi menurutku ada kesamaan di antara mereka yaitu keberanian dan pengorbanan.bayangkan, mereka dengan beraninya melawan parapenjahat2 yang berusaha mengganggu stabilitas HANKAM, mereka rela berkorban demi menyelamatkan nyawa manusia, liat aja si Superman. Dia bela2in rela melepas bajunya hanya untuk nolongin seorang nenek yang nyantol di tali jemuran. Wkwkwkwkwk…….:D
            Bro…bro… bangun bro! gak usah terlalu dibayangin deh bro, pernah gak membaca atau mendengar istilah HARDORE/PUNK dan Skin Heads Union ?!
            HARDORE/PUNK adalah sebuah gerakan revolusioner anti0penindasan dan sebuah gerakan libertarian dari kelompok orang2 yang tidak puas dengan kondisi dunia saat ini. Sedangkan  Skin Heads Union adalah kelompok yang berpaham nazi dan melakukan kekerasan di dimana-mana.
            Budaya punk adalah sebuah budaya penentangan, budaya resistensi terhadap ketidak seimbangan system yang berlaku. Gerakan resistensi yang mengantar kaum muda yang putus harapan kepada sebuah idealisme baru mengenai pemberontakan kaum muda. Beda halnya dengan Skin Heads Union (Neo Nazi),Skin Heads terdiri dari anak-anak muda jerman yang umumnya berasal dari wilayah eks Jerman Timur .
            Penampilannya, selain berkepala plontos, berwajah dingin, dan gemar mengejekorang berkulit putih dengan perkataan,” jangan makan rotiku!” kelompok itu sangat arogan dan brutal, sering mengejar-ngejar orang2 yang berkulit berwarna (non bule).
            Buruannya itu, mereka kejar sampai harus kabur terbirit-birit. Bila buruannya tertangkap, orang-orang Skin Heads itu, tak segan-segan  menghajarnya sampai babak belur. Bahkan ada yang sampai di baker.
            Bro…saya terinspirasi dengan gerakan2 contra culture bro… makanya saya bercita-cita  membuat sebuah gerakan revolusioner anti-kapitalisme; anti-sosialisme; anti-demokrasi; anti-privatisasi serta anti-anti yang lainnya, kalo penampilannya ya rada2 mirip Skin Heads gitulah ..rambut plontos, celana gantung n jenggot sedagu. Keren gak? Karakternya mirip2 kesatria ah… berani, jujur, dan cerdas (tapi gak kayak orang2 parpol itu tuh)
            Mau ikutan gabung gak bro..? bro.. umak akan saya angkat menjadi seorang jubir. Dan seluruh manajemannya umak yang kelola ya, bro! ngumpulin infak, jual embel2, stiker, dan jual Magz,Hmmm… hamper lupa.. gerakan ini kita beri nama “Sons Of Liberation”. Gerakan ini dibuat bukan untuk menyaingi gerakan2 ato parpol2 yang uda ada, gerakan ini hanya mencoba mencari celah untuk bias ikut andil dalam revolusi nanti, yang pastinya motto gerakan kita ini “ Kami Hidup Untuk Revolusi, kalau dilarang ya…..BU…BAR !”  :p

By: REV K46
Sumber : majalah openmind./Hal.18-19 /edisi.21

Read more »

Kamis, 08 Desember 2011

Tujuan

Tujuan Farohis :

  1. mewujudkan Shilah Ukhuwah  antar pelajar dan remaja, yang mempunyai kepedulian di lingkungannya.
  2. memberikan informasi  kepada para pelajar dan remaja tentang permasalahan kekinian generasi muda.
  3. memberikan stimulus kepada pelajar dan remaja untuk memperhatikan lebih dalam permasalahan generasi muda.
  4. memberikan motifasi, pembekalan, pengarahan dan perencanaan strategis untuk solusi permasalahan remaja.
  5. mensosialisasikan opini umum tentang isu-isu ke-Islaman dikalangan remaja dan memberikan solusinya.

Read more »

Visi Dan Misi FAROHIS

Visi Dan Misi FAROHIS :
  1. VISI
  1. mengusahakan terciptanya hubungan yang komunikatif dan proaktif berdasarkan prinsip Ukhuwah Islamiyah antar Kerohanian Islam sekolah dalam rangka membentuk pribadi-pribadi muslim yang sempurna.
  2. menjadikan FAROHIS (Forum Aktifis Kerohanian Islam) sebagai wahana dakwah bagi para pengelola dan anggotanya dalam meraih keridhoan Allah SWT.
  3. Menjadikan FAROHIS (Forum Aktifis Kerohanian Islam)  sebagai penggerak rohis-rohis di sekolah-sekolah di Probolinggo.
  1. Misi
  1. Meraih ridho Allah SWT.
  2. Mengokohkan tali Ukhuwah Islamiyah antar rohis khususnya dan remaja muslim umumnya.
  3. mendorong optimalisasi fungsi dan peran rohis dalam dakwah sekolah untuk membentengi siswa dari pengaruh buruk globalisasi.
  4. menungkatkan wawasan dan kemampuan anggota rohis dalam berorganisasi dan dakwah sekolah.
  5. mewujudkan SDM yang memiliki kematangan kepribadian islam, melalui pola fakir dan pola sikap yang islami, serta untuk menyeru ummat khususnya generasi muda untuk kembali kepada kehidupan islami.
  6. membentengi para siswa-siswi usia remaja dan pemuda dari gaya hidup hedonistis, pergaulan bebas, perkelahian antar pelajar, narkoba dan kenakalan remaja lain pada umumnya.

Read more »

ngaji yuk...!!!